Yang Tertinggal di Ujung Jemari
Aku sudah lupa kapan terakhir kali tangan kita saling mencari.
Entah sejak kapan, tidur di sisi yang sama terasa seperti tidur di dua dunia yang berbeda.
Kau memunggungiku, aku memeluk udara.
Dan malam-malam terasa begitu panjang, bahkan tanpa hujan. Lalu malam itu datang. Aneh, sunyi, tapi ada kehangatan menyergap.
Dalam gelap, aku merasakan hangat yang asing tapi pernah kukenal. Ia menyelinap ke dalam cela jari-jariku yang hampir beku. Seolah tubuhmu bicara lebih jujur dari mulutmu. Bahwa di balik semua diam dan jarak, masih ada sedikit sisa rasa. Entah cinta, entah kebiasaan, entah hanya rindu yang tersesat.
Jari-jariku disentuh perlahan, seperti ragu, seperti takut salah waktu. Kau menggenggamnya pelan, lalu menahan.
Dalam pejam, aku ingin membuka mata.
Aku ingin tahu, apakah itu mimpiku atau kau benar-benar di sana? Tapi aku memilih diam, karena mungkin hanya dalam diam lah aku masih bisa bersamamu.
Aku membalas genggaman itu, pelan sekali, sebagai isyarat "Ya. Aku ada disini". Dan dalam genggaman yang hanya sebentar itu, aku merasa aman. Aku merasa dicintai, meski mungkin hanya oleh perasaan bersalahmu.
Tak lama, kau menarik tanganmu kembali.
Seakan menyadari bahwa kehangatan itu bukan lagi milik kita. Sementara aku, menahan panasnya air mata yang tak lagi bisa kubendung. Menyadari bahwa aku kembali kehilangan sesuatu yang tidak pernah benar-benar aku punya.
Aku masih belajar menerima kenyataan. Kadang cinta tidak hilang. Ia hanya kehabisan cara untuk tinggal. Biarkan ya. Biarkan aku menyisakan jejakmu yang tinggal melingkar di sana. Di jari manisku.

Komentar
Posting Komentar